Opinion

Jangan Masuk S-1 ITB

Jangan Masuk S-1 Institut Teknologi Bandung
oleh: Wahyu Eko Widodo S.Farm (Alumni ITB)
Kampus ITB l SeputarKampus

Sebentar lagi ada Ujian Nasional (UN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), anak-anak SMA kelas 12 mungkin banyak yang ingin masuk kampus-kampus favorit seperti UGM, ITB atau UI, sama seperti halnya 6 tahun lalu saat saya kelas 12 SMA. Saat itu, dalam memilih kampus, yang terpikir di otak saya cuma 2, saya suka pelajaran apa dan di mana yang passing grade-nya paling tinggi. Kenapa paling tinggi? Karena asumsi saya, jika saya masuk di grade paling tinggi di Indonesia, maka akan mudah mencari kerja. Karena saya suka pelajaran kimia dan kebetulan juga alumni olimpiade kimia, maka saya memilih tiga program studi yang sangat berhubungan dengan kimia, yaitu Teknik Kimia, Farmasi dan Kimia (murni). Saya coba cari informasi, di bimbingan belajar, di situs online dan sebagainya, ternyata ketiga program studi itu yang passing grade-nya tertinggi semuanya ada di ITB. Singkat cerita, saya masuk Farmasi ITB, lulus S1 4 tahun 3 bulan lalu dan melanjutkan pendidikan profesi setahun. Ini sekilas gambaran yang mungkin juga dihadapi oleh adik-adik yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Saya akan lebih banyak bercerita sesuai judul artikel ini. Ketika saya dan beberapa teman alumni berkumpul, ada yang sudah kerja di oil & gas company, ada yang bisnis, ada yang S2, ada yang kerja di bidang programming dan sebagainya, teman saya yang S2 bercerita bahwa perbandingan saat dia kuliah S2 dengan S1 di ITB sangat berbeda jauh. Sama-sama di ITB, namun dengan effort belajar yang sama, IPK-nya selalu tinggi, yakni mendekati 4. Berbeda sekali saat dia dulu menjalani pendidikan S1 di Matematika, mendapat IP 3 itu pun butuh perjuangan ekstra berat, memang S2 & S3 di ITB kualitasnya masih jauh dibanding S1. ITB sendiri saja tidak mau menerima dosen kalau s3-nya masih di ITB. Lalu, ada satu lagi teman yang bercerita, ada seorang teman yang dulunya kuliah di Kimia ITB, IP-nya hanya sekitar 2, padahal dia lulusan terbaik di SMA-nya, lalu anak ini pindah ke Teknik Mesin pada suatu kampus negeri di Depok dan sampai saat ini IPK-nya 4 bulat! Saya pun punya cerita, ada dua teman saya yang juga lulusan terbaik di SMA-nya, satu orang dari Cirebon, dia dulu peraih medali perunggu Olimpiade Sains Nasional (OSN), satu lagi anak Lampung, peringkat 31 OSN, namun sayang, kedua teman saya ini DO dari ITB. Adik kandung saya juga aneh, dia ikut SNMPTN 2 kali dan keduanya tidak diterima di ITB. Pada akhirnya, ia memilih kampus negeri lain di Bandung dan ternyata IPK-nya mendekati 4. Ini segelintir contoh cerita yang sukses juga, teman saya yang sudah lulus dari ITB lebih mudah memang hidupnya, ada yang s2 di Jepang, Belanda, Jerman, serta ada yang berkarir di Pertamina, Unilever, Chevron, Biofarma, berbisnis, dan masih banyak lagi.

Apa yang ingin saya pesankan kepada adik-adik yang ingin masuk perguruan tinggi? Masuk perguruan tinggi bukan masalah gengsi atau kebanggaan semata, program studi dan universitas yang akan kita masuki harus sesuai dengan minat, potensi dan passion kita. Khususnya di ITB, karena jumlah mahasiswa yang diterima di sini jauh lebih sedikit dibanding universitas lain dan program studinya hampir semua IPA, maka persaingannya pun ketat. Sampai bisa masuk pun belum tentu sukses, banyak contoh anak-anak yang dulu lulusan terbaik di SMA-nya, juara OSN dan sebagainya, namun tidak ditakdirkan  lulus. Bukan karena bodoh, namun karena memang persaingan, lingkungan dan dosen yang ketat. Jangan heran bila kamu yang sekarang paling pintar di SMA, nanti pernah tidak lulus satu atau dua mata kuliah dan harus mengulang. Pesan saya, jangan masuk S1 ITB, jika memang tidak siap untuk bekerja keras.

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow kami untuk mendapatkan update berita seputar kampus di Indonesia

Follow @SiapJadiMaba

Pengen siap jadi Maba? Follow @SiapJadiMaba

Visit Our Radio Station Partner!