Opinion

Pemilu Indonesia untuk Siapa?

Pemilu, ya akhir-akhir ini sangat sering kita mendengar kata ini. Mulai dari media cetak, online, sampai televisi pun memberitakan hal ini. Ada calon yang kuat lah, lobi sesama partai, pencitraan, konvensi, penolakan, penjatuhan citra dan sebagainya. Dinamis? Ya, bahkan sangat dinamis untuk hari-H pemilu yang masih cukup lama yaitu di pertengahan 2014 nanti. Isu tentang pemilu, mungkin bisa diambil benang merahnya dimulai dari penjatuhan citra salah satu partai melalui kasus daging sapinya, sangat seru memang semua media nasional dari yang ecek-ecek sampai kelas tinggi memberitakannya. Mulai dari kasus tertuduh korupsi hingga kehidupan pribadi tersangka dengan istri-istrinya. Menarik, sangat menarik memang dan sangat terlihat partai yang satu ini sedang dihancurkan oleh media. Terlihat dari bagaimana gaya media memberitakan bahkan sampai kehidupan pribadinya pun di ekspos habis-habisan, AF yang ternyata bukan kader partai tersebut dicitrakan seperti kader partai tersebut dan dikait-kaitkan dengan kelakuannya yang (katanya) suka main perempuan.

Pemilu, memang ibarat medan perang. Di mana para partai saling berkoalisi dengan partai-partai lainnya. Di satu waktu menjadi musuh dan di waktu lainnya menjadi kawan, ah jadi teringat bagaimana Machiavelli mengatakan “Musuh dari musuhku adalah temanku”. Pragmatis, mungkin kata yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi politik saat ini. Semua berteman untuk keuntungan, semua berteman dan saling menyokong untuk kekuasaan yang pastinya (atau bisa jadi?) akan menguntungkan hanya golongan mereka. Ya, masih ada juga sih yang bilang kalau tidak semua partai itu bobrok, masih ada yang mau kerja untuk rakyat, kalo dipikir-pikir ada gak ya? Ada mungkin, bisa jadi ada, atau malah tidak ada? Teka-teki yang menarik, yang bisa jadi tidak bisa terjawab atau sangat sulit dijawab.

Pemilu, adalah ajang yang bagi sebagian partai sangat menguras “kantong” mereka, ada juga partai yang sampai rela merogoh “kantong”nya sebanyak 40 miliar untuk hanya sekedar konvensi penentuan calon presiden yang diusung dari partai tersebut. Dari mana uangnya? Hanya kader partai dan Tuhan yang tau.

Pemilu, bagi kita rakyat jelata tidak penting siapa yang menang yang penting perut kenyang. Serangan fajar, blusukan-blusukan menjadi salah satu senjata paling ampuh untuk menangani hal ini, saweran dan yang lainnya menjadi hal yang sangat lumrah dan murah di kalangan politisi, ya sekedar seratus ribu rupiah tak jadi soal ketimbang suara yang nantinya akan didapat oleh mereka, yang akan melanggengkan mereka ke pucuk kekuasaan negeri kita.

Pemilu, semoga kita bisa menjadi pemilih cerdas, terbuka mata, hati, dan telinganya.

Tulisan/opini oleh: Fahmi Indra Cahya, FEUI 2011

Share links: skmp.us/pemilu

Follow Us

Follow kami untuk mendapatkan update berita seputar kampus di Indonesia

Follow @SiapJadiMaba

Pengen siap jadi Maba? Follow @SiapJadiMaba

Visit Our Radio Station Partner!