Opinion

Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saya hormati.
Kutulis ini didorong oleh kegalauan yang sangat. Tidak tahu lagi harus membenturkan diri ke mana.

Di mata saya, seluruh organ di Universitas Indonesia sudah mampat dan pintu kebijaksanaan serta perbaikan bagaikan tak akan pernah ditemukan. Segalanya beku, kaku, dan henti. Orang pandai tak punya berani. Orang baik kekurangan percaya diri.

Maka, banyaklah kepintaran yang gelap menari-nari, mencari mungkin, dengan berbagai langkah memastikan maunya sendiri. Saat ini tak sehat universitas kami. Dan dengan rasa malu yang dalam, kutulis surat ini untukmu.

Kampus megah di Jawa Barat itu, Pak Menteri, dengan gedung-gedung mewah serta impian mendunia itu, saat ini sepi. Diam (antara lain karena libur antarsemester). Para dosen datang dan pergi, karena tidak harus mengajar, dia datang hanya untuk kepentingan tertentu, bukan rutin mengajar.

Paling-paling rapat, lokakarya perbaikan silabus, pinjam buku, atau menulis rekomendasi. Para mahasiswa? Mereka juga belum kembali dari istirahatnya yang panjang. Mereka perlu penguatan dan pemulihan dari keluarganya.

Beberapa hari lalu jaket kuning memang tampak bertebaran, namun kudengar, itu hanya maba (mahasiswa baru), yang agaknya sedang dihimpun-terima oleh kakak-kakaknya. Dengan demikian, di kampus semua tampak biasa-biasa saja.

Di mata orang luar, begitulah adanya kampus yang sedang antarsemester. Tetapi sesungguhnya, UI benar-benar sedang tiada kontrol. Masyarakatnya galau. Ada bara yang panas di sini. Dan menurut kata banyak orang, dengan rumus benar, jujur, dan adil, bau busuk juga menyebar ke mana-mana dan tercium di mana-mana. Jangan lupa, tersiar kabar yang dapat dipercaya, beberapa petinggi UI mengajukan pengunduran diri.

Direktur, kepala kantor, dan lainnya, mulai gerah dan tak tahan kena sorotan. Saya tidak bicara orang kedua yang malah sudah lama tak sejalan dengan penguasa tunggal di Universitas Indonesia. Saya dengar, banyak orang sudah mulai bimbang.

Mayoritas yang bisu mulai clingak-clinguk. Malah kata sebagian orang yang gemar menggunakan kepintaran berbeda, rektor yang kejam itu sudah mulai cemas dengan sepak-terjangnya yang tak karuan. Kampus yang indah itu, Pak Nuh, tempat berlibur dan mencari hawa segar di hari Minggu bagi masyarakat itu, sesungguhnya sedang sakit parah.

Kampus idaman generasi muda Indonesia itu, harapan masyarakat Indonesia itu, yang bertugas melahirkan pemimpin masa depan Indonesia itu, saat ini sedang sekarat.

Bapak Menteri yang saya hargai. Sesungguhnya Bapak tahu semuanya, mengikuti gonjang-ganjing apa yang terjadi di UI sejak awal, ketika akhirnya pecah kesatuan teriak di kampus kami, kampus perjuangan menyatakan UI is NOT for Sale. Dan Pak Menteri jugalah yang selalu mengatakan bahwa kami pasti dapat menyelesaikan masalah internal kami. Bapak memberi kami kesempatan mengatur diri dengan benar, dengan jujur, dan dengan adil.

Namun, dengan demikian rupa kesepakatan, peraturan, arahan yang ada, rektor UI Gumilar R. Somantri yang harusnya cendekia dan hanya melakukan segalanya untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang yang dipimpinnya, malah berlaku sebagai raja-diraja. Memang sudah lama dia merajalela demikian. Ingat, kan? Setelah memecat Dekan Fakultas Kedokteran karena mengadukannya ke KPK, dan mendapat tantangan dan penolakan dari berbagai pihak, seperti orang kalap dia pecati tujuh Dekan dan seorang ketua Program Pascasarjana.

Maka keluarlah Mosi Tidak Percaya dari sembilan Dekan, dan lihatlah, mahasiswa kami, anak-anak yang sesungguhnya “belum tahu apa-apa” itu sudah bergerak dan “menuntut Rektor UI turun paling lama tanggal 12 Agustus 2012.”

Pak Nuh yang baik. Tolonglah melihat dan merasakan situasi kami. Pandanglah kami yang bingung, sedih, dan terpuruk karena persoalan pelik yang tak mungkin kami pecahkan sendiri. Malu memang. Malu benar. Masa orang-orang pandai, yang berhimpun dalam universitas berkelas dunia, tak bisa mengatur dirinya? Majelis Wali Amanat UI menyatakan bahwa masa tugas rektor UI berakhir pada 14 Agustus 2012.

Seperti tadi saya singgung, mahasiswa sendiri tak mau menunggu selama itu. Bapak tahu, mengapanya. Pun kami, orangtua, para guru di Universitas Indonesia bisa memahami, bahkan banyak di antara kami yang menghendaki yang serupa. Dan dengan pertimbangan yang baik dari Bapak, saya tahu, kami akan diberi Pejabat untuk memimpin UI menentukan dan memilih rektornya yang baru. Artinya, pejabat yang akan datang ini akan mengantar UI kembali ke kesejatiannya sebagai universitas.

Pak Nuh yang bijaksana. Inilah yang utama hendak saya utarakan. Melalui surat ini, saya memohon dengan sangat. Mengingat universitas adalah lembaga inisiasi kebebasan berpikir, rumah pengetahuan yang hakikatnya adalah memproduksi pengetahuan bagi masyarakat, yang seyogianya dikelola dengan etika akademik, seperti di UI disebut veritas, probitas, iustitia, mohonlah pejabat yang akan Anda utus sedikitnya memiliki integritas yang tinggi. Orang yang berwibawa dan berpenghayatan atas ketiga nilai itu. Orang yang karena reputasinya dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan. Orang yang dapat dipercaya karena kesungguhan kerja dan tanggung jawabnya membawa kebaikan bagi Universitas Indonesia, dan dengan demikian bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya. Malahan kalau merujuk kekuatan UI, kepongahan, dan keserakahannya seperti dapat kita lihat hingga kini di bawah kepemimpinan rektor yang segera berakhir masa tugasnya, maka utusan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kalau mungkin hanyalah orang yang berani berkata ya kalau ya dan tidak kalau tidak. Singkatnya, kami memerlukan orang yang menguasai masalah dan memahami keadaan dan dengan bijaksana –tidak disetir kepentingan pribadi, kelompok, kekuatan politik, kekuatan uang dan sebagainya– mengelolanya bersama sivitas akademika.

Sebagai guru, kita sama-sama tahu bagaimana pada dasarnya, tugas utama kita adalah mendidik. Dalam mengajar dan kita mendidik ini, kita membangun dan membuka pikiran manusia, yang dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 dikatakan, “membentuk watak serta peradaban bangsa.” Hakikatnya, kita sedang mempersiapkan masa depan manusia dan bangsa Indonesia. Itulah tugas universitas.

Pak Nuh yang teduh hati. Siapakah UI sehingga dia harus diistimewakan, secara khusus dan berlama-lama dijaga diperhatikan pemerintah di wilayah Senayan sana? Mengapakah dia boleh menguras waktu para pejabat Negara? Tidakkah seharusnya dia wajib, dengan keadaannya yang lebih matang, lebih tua karena lahir sejak 1849, membantu pemerintah meringankan beban Negara, mengurusi ratusan universitas lainnya, yang pasti juga mempunyai berbagai permasalahan? Ini. Pertanyaan-pertanyaan pelik inilah yang membuat saya malu menulis surat ini, Pak Nuh. Saya malu dan menjadi rendah diri. Lagi-lagi UI harus meminta perhatian umum, lagi-lagi harus menjadi sorotan dan buah bibir semua orang. Hanya karena ulah seorang pemimpin yang egosentrik tak terkendali, yang melupakan tugas utamanya memproduksi pengetahuan bagi masyarakat tempatnya berhutang.

Sejawatku Nuh yang sabar. Utuslah seorang guru yang bijak berhati mulia serta berjiwa ksatria,–lelaki maupun perempuan–, membantu kami, dan bersama sivitas akademika UI dapat menyelamatkan Universitas Indonesia. Kami lelah dan sangat risau menanti keputusanmu.

Kami takut masuk kembali dalam cengkeraman dan kuasa pimpinan yang segera berhenti ini. Ingatlah kami para pengajar yang ingin berkarya untuk bangsa dan negeri sendiri, para karyawan yang ingin memberi diri, dan para mahasiswa dari segala lapisan dan kalangan di seluruh Indonesia.

Dengan segala keterbatasan namun harapan dan semangat untuk maju yang tinggi kami ingin bersama dan dengan arahan Anda, membangun Indonesia.

Saudaraku Nuh yang budiman. Kami tak ingin kembali dijajah oleh rektor yang masa tugasnya segera berakhir.

Kami memerlukan rektor yang punya integritas tinggi. Yang sadar akan hakikat universitas. Yang kolegial, yang mau bekerja sama, yang mau mendengar, yang mau peduli, dan yang rela berkorban untuk kebaikan lembaga yang dipimpinnya.

Terima kasih banyak, dan terimalah salam demi Indonesia,
Riris K. Toha-Sarumpaet
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Source: Media Indonesia Online Ed. Rabu, 8 Agustus 2012
Share links: skmp.us/suratterbuka

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow kami untuk mendapatkan update berita seputar kampus di Indonesia

Follow @SiapJadiMaba

Pengen siap jadi Maba? Follow @SiapJadiMaba

Visit Our Radio Station Partner!