Opinion

UTS+UAS=SKS

“Ujian tlah tiba, Ujian tlah tiba, horee…” SKS pun datang… (kutipan lirik Tasya: Libur Tlah Tiba)

SeputarKampus.com lovers… Pernah dengar istilah SKS, kan! Bagi temen-temen mahasiswa pastinya akan menjawab, “Pasti pernah lah…” dan mungkin sebagian besar lainnya akan menjawab, “Sistem kredit semester, bukan?”

Ups, SKS yang dimaksud di sini bukanlah Sistem Kredit Semester seperti yang diutarakan oleh temen-temen mahasiswa di atas, namun SKS di sini adalah Sistem Kebut Semalam.

Yups, SKS adalah suatu sistem yang sangat dahsyat (bagi sebagian mahasiswa) di mana kita belajar semalaman suntuk untuk menghadapi ujian keesokan harinya. Dan, sistem ini mungkin telah populer di kalangan mahasiswa baik mahasiswa KuPu-KuPu, KuNang-KuNang, KuDa-KuDa, maupun KuRa-KuRa. (nah pada bingung kan! , itu hanya sebutan bagi berbagai tipe mahasiswa pada umumnya).

Kembali lagi ke topik SKS, mahasiswa acapkali menjadikan sistem ini sebagai alternatif utama ketika akan menghadapi ujian, baik ujian tengah semester, ujian akhir semester, atau cemilan-cemilan ujian lainnya (seperti: quiz, dll.) Biasanya hal ini dilakukan mahasiswa yang kurang memiliki minat belajar secara rutin, teratur, dan terjadwal. Kebanyakan dari mahasiswa tersebut giat belajar hanya ketika mau ujian.

Semalaman suntuk, para mahasiswa belajar dari berbagai sumber ini-itu, photo copy catetan sana-sini, download di link ini-itu, dan dari berbagai sumber lainnya. Tak jarang mereka juga mencari referensi belajar dari dunia maya sambil surfing internet (namun tak jarang pula, tujuannya untuk belajar terkalahkan).

Sistem SKS ini kerap kali menjadi andalan para mahasiswa dalam menghadapi berbagai macam ‘perang’ (baca: ujian). Namun, sebenarnya hal tersebut kurang efektif dan hasilnya kurang optimal. Bagi penulis pribadi, pernah suatu ketika, tiba-tiba saja materi yang dipelajari semalaman suntuk lenyap dari ingatan dan otak. (seperti film Spongbob Square Pants yang ceritanya dia sudah belajar banyak hal tentang bagaimana mengubah restoran dengan super dan berbintang dalam waktu cepat untuk mengubah Krusty Crabs sebagai Restoran Bintang Lima, namun SpongeBob sendiri lupa akan namanya).

Jadi, usaha untuk bangun dini hari (yang biasanya hanya bangun untuk nonton bola dan tahajud [bagi yang muslim]), hingga mengulang-ulang materi yang akan diujikan ketika genderang perang akan ditabuh pun menjadi sia-sia. Mengapa jadi sia-sia? Karena ketika masuk kelas atau ruang ujian, duduk, dan menunggu soal dibagikan oleh penjaga ujian dan akhirnya menerima naskah ujian dan membacanya, alangkah terkejutnya diri ini karena tiba-tiba materi yang telah dihafalkan tiba-tiba saja lenyap (clinkk! Bagaikan sulap Uya Kuya).

Akhirnya, sebagai ‘manusia’ (baca: mahasiswa) biasa semakin bingung meratapi nasib ini. Mau meniru ‘menyontek’ sana-sini sangat sangat amat tidak mungkin. Karena mungkin temen-temen SeputarKampus.com yang berasal dari UI paham akan culture di beberapa fakultas di UI, tak terkecuali FE. Jika kedapatan seorang mahasiswa FE menyontek saat ujian, maka mata kuliah yang diujikan tersebut langsung mendapat nilai E. Tidak berhenti sampai di situ penderitaan yang diterima, nilai mata ujian yang akan diujikan di hari beikutnya hingga berakhirnya jadwal ujian pun juga akan mendapatkan nilai E.

Ehm… Apakah di fakultas lainnya juga diterapkan hal yang sama??

Dan ujung-ujungnya, alternatif dan senjata pamungkas yang digunakan oleh kebanyakan mahasiswa adalah ‘mengarang indah’ (bentuk penghalusan kata dari ngawur atau ngasal, hiks…), demikian kebanyakan mahasiswa sering menyebutnya. Ya, artinya dalam menjawab setiap butir soal dengan pengetahuan terbatas yang telah dimiliki dan dikuasai.

Yup, jika SKC lovers juga pernah mengalami hal yang sama dengan kasus di atas. Yuk, sama sama kita tinggalkan sistem SKS ini (bukan kuliahnya, Sistem Kredit Semester, yang ditinggalkan). Karena cara ini hanya akan menghambat kita untuk meraih prestasi yang lebih tinggi dan lebih membanggakan lagi.

Agak menyeberang ke luar negeri sana… Sebuah riset mengatakan, “Mempelajari banyak materi dalam waktu semalam bisa jadi kurang efektif, setidaknya jika ingin pengetahuan baru tersebut bisa bertahan lama dalam otak kita”. Sedangkan, sistem belajar yang baik adalah dengan mencicil atau menabung materi jauh-jauh hari sebelum waktu ujian tiba. Dan, mengulang-ulang materi tersebut dalam selang waktu tertentu.

Dr. Doug Rohrer, pemimpin riset dari University of South Florida dan Dr. Harold Pashler (University of California, San Diego, AS), meninjau beberapa studi tentang pengaruh pengaturan waktu terhadap kemampuan mempertahankan informasi baru. Dikatakan, orang-orang yang belajar satu topik secara berlebihan, semisal mengulang satu materi secara terus-menerus setelah menguasai materi tersebut dengan baik, memang berhasil mendapat nilai lebih baik ketika diuji seminggu kemudian. Tapi, jika diuji 4 minggu kemudian, nilai yang didapatkan tidak lebih baik dibanding orang-orang yang segera beralih ke topik lain setelah menguasai materi tersebut. Intinya belajar secara berlebihan, menurut Dr. Rohrer, tidak memberikan keuntungan yang berarti.

Sejumlah studi telah mengungkapkan bahwa mengatur waktu belajar dalam periode tertentu jauh lebih efektif dan lebih baik ketimbang menumpuk semuanya sekaligus dalam satu sesi belajar.

Dan kembali sebagai mahasiswa yang memiliki daya pikir kritis dan ingin tahu lebih banyak bertanya. “Lalu bagaimana agar informasi baru yang kita peroleh bisa tetap awet dan terjaga dalam memory otak kita?”.

Akhirnya, tim Dr. Rohrer berhasil merumuskan cara jitu atas case ini. Beliau mengatakan, jika kita akan menghadapi ujian dalam 10 hari ke depan, beri selang satu hari di antara sesi belajar. Namun, jika ingin mempertahankan informasi tersebut selama 6 bulan, beri selang satu bulan, baru ulangi pelajaran tersebut.

Dr. Rohrer mencontohkan, lebih baik mempelajari 10 kosa kata baru dalam seminggu dan mengulangi 10 kata lainnya, ketimbang mempelajari 20 kosa kata sekaligus dalam seminggu.

Dan kembali ke dalam negeri, mengapa kita sebagai mahasiswa perlu kembali ke jalan yang benar dan lurus dengan meninggalkan sistem SKS tersebut? Karena berkaitan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beliau-beliau, peneliti, tersebut efek negatif dari SKS.

Hal ini mengapa perlu ditinggalkan, karena kita sebagai mahasiswa pilihan dan berada di kampus pilihan pula memiliki tanggung-jawab besar yang ada di pundak kita. Kita sebagai mahasiswa juga dituntut untuk dapat terus berkarya positif dan penuh dengan tanggung jawab, tidak hanya kepada diri kita sendiri, orang tua, tetapi juga jauh lebih besar dan luas dari itu, yaitu untuk bangsa, negara, dan nantinya menjadi agent of change bagi kemakmuran rakyat.

Dan akhirnya, pelajari dan persiapkan materi ujian jauh-jauh hari sebelum genderang ujian/UTS/UAS ditabuh. Caranya dengan mempelajari materi sedikit demi sedikit (menabung) dan mengulanginya secara berkala. Dan, yang terakhir dan tak kalah pentingnya jangan lupa untuk senantiasa berdo’a kepada Sang Khaliq, Sang Maha Berilmu, agar kita diberi kemudahan untuk mengerjakan setiap butir ujian dengan baik. Hal ini, karena jika Yang Maha Berkehendak telah menentukan, apa yang sulit dapat menjadi mudah, dan berlaku pula sebaliknya. Namun, jika memang waktunya yang sudah tidak memungkinkan untuk menerapkan cara jitu yang dikemukakan oleh Dr. Rohrer, apalah daya SKS pun kembali menjadi PILIHAN TEPAT!

Selamat menyiapkan berbagai macam UJIAN bagi Mahasiswa INDONESIA!

Share links: skmp.us/sks

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Us

Follow kami untuk mendapatkan update berita seputar kampus di Indonesia

Follow @SiapJadiMaba

Pengen siap jadi Maba? Follow @SiapJadiMaba

Visit Our Radio Station Partner!